5 rupiah 1952 adalah Uang Pertama Bank Indonesia

Berdasarkan sejarah, Bank Indonesia berdiri sejak 1 Juli 1953. Uang yang pertama dikeluarkan BI adalah uang Seri kebudayaan 5 rupiah 1952, Uang tersebut ditanda tangani oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang merupakan gubernur BI pertama.

5 rupiah 1952 adalah Uang Pertama Bank Indonesia

Gubernur BI pertama (1953-1958)

Seri kebudayaan di edarkan tidak secara bersamaan tetapi berbeda-beda dimulai dari 2 Juli 1953 (satu hari setelah BI berdiri) sampai dengan 25 Januari 1955.

  • Nominal 5 rupiah dan 10 rupiah diedarkan pada tanggal 2 Juli 1953 dan ditarik dari peredaran tanggal 16 Januari 1961.
  • 100 rupiah diedarkan pada tanggal 16 Desember 1953 dan ditarik dari peredaran tanggal 15 Desember 1961.
  • 25 rupiah diedarkan pada tanggal 8 Juni 1954 dan ditarik dari peredaran pada tanggal 16 januari 1961.
  • 50 rupiah diedarkan pada tanggal 13 Agustus 1954, ditarik dari peredaran tanggal 16 Januari 1961.
  • 1000 rupiah diedarkan pada tanggal 23 November 1954 dan ditarik dari peredaran tanggl 7 Agustus 1958.
  • 500 rupiah diedarkan pada tanggal 25 Januari 1955 dan ditarik pada tanggal 21 September 1959

Seri ini mempunyai tanggal edar yang tidak sama mungkin karena seri ini dicetak oleh percetakan yang berbeda. Terdapat 3 percetakan yang mencetak uang kuno seri kebudayaan:

  • Thomas De La Rue, percetakan besar dari Inggris mencetak nominal 5 rupiah.
  • Percetakan Kebajoran NV mencetak nominal 10 rupiah dan 25 rupiah.
  • Johan Enschede en Zonen asal Belanda mencetak semua nominal kecuali 5 rupiah.
5 rupiah 1952 adalah Uang Pertama Bank Indonesia

seri kebudayaan

Seri kebudayaan mempunyai nominal yang lengkap dari 5 rupiah sampai 1000 Rupiah, Gambar pada uang sri kebudayaan juga sangat indah yang yang mencerminkan kebudayaan Indonesia yang ketika itu baru saja merdeka karena itu uang ini sangat di gemari oleh para kolektor harganya pun sangat tinggi.

Uang Pertama Bank Indonesia

Nominal 5 Rupiah seri kebudayaan merupakan uang pertama yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.
Pada bagian depan Bergambar RA kartini dan pada bagian belaknag bergambar corak tumbuhan. Gambar pada uang 5 rupiah 1952 ini mempunyai makna yang mendalam:
Seperti yang kita ketahui RA Kartini adalah seorang pahlawan wanita yang sangat dikagumi, beliau menuliskan kumpulan surat-surat yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1922 berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Dengan terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pada tanggal 2 Mei 1964 Presiden Sukarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional dan menjadikan tanggal 21 April sebagai hari Kartini yang merupakan hari kelahirannya.

5 rupiah 1952 adalah Uang Pertama Bank Indonesia

5 rupiah 1952 adalah Uang Pertama Bank Indonesia

Gambar depan  uang kertas 5 rupiah 1952 Seri kebudayaan

Pada bagian belakang uang 5 rupiah tahun 1952, bergambar corak pohon yang mirip pohon kehidupan yang disebut kalpataru. Arti kata Kalpataru berasal dari kata ‘kalp’ yang artinya ingin atau keinginan sedangkan ‘taru’ yang artinya adalah pohon. Jadi kalpataru artinya yaitu pohon yang dapat mengabulkan keinginan manusia. Gambar tersebut menyerupai Lukisan yang terdapat pada candi-candi seperti pada Borobudur, Prambanan, Mendut, dan Pawon.

5 rupiah 1952 adalah Uang Pertama Bank Indonesia

kalpataru

5 rupiah 1952 adalah Uang Pertama Bank Indonesia

gambar belakang Rp 5 kebudayaan 1952

Bentuk Penggambaran Kalpataru

Menurut mitologi, pohon ini mempunyai ciri-ciri yaitu bunga yang indah dengan bau semerbak, berbuah penuh dengan berbagai ratna mutu manikam dan daun-daunnya yang selalu berwarna hijau, selain itu memiliki ratusan rantai emas dan untaian mutiara yang bergantungan di dahannya. Perhatikan gambar uang 5 rupiah 1952 berikut ini, terdapat rantaian mutira.

5 rupiah 1952 adalah Uang Pertama Bank Indonesia

Rantaian mutiara pada pohon kehidupan

Selain itu juga digambarkan bahwa terdapat binatang ular di dekat pohon yang bertgas sebagai penjaga terhadap kesucian pohon itu. Perhatikan gambar di bawah ini:

5 rupiah 1952 adalah Uang Pertama Bank Indonesia

binatang pelindung kalpataru

Di sekitar pohon juga terdapat pagar atau tembok untuk melindungi kesuciannya. Pada bagian atas pohon sering pula terdapat payung untuk melindungi pohon itu dari terik matahari dan hujan. Meskipun pohon kalpataru digambarkan mempunyai ciri-ciri seperti yang disebutkan di atas, tetapi dalam penggambarannya biasanya hanya ciri-ciri yang bersifat konkrit saja yang dapat digambarkan dalam bentuk relief, tidak semua ciri dapat ditampakkan, misalnya adanya untaian manik-manik, pengapit , pundi-pundi, permata, dan hiasan payung.

Terkadang, dalam penggambarannya ada salah satu dari komponen yang dihilangkan ataupun diganti dengan komponen yang lain. Ini bisa terjadi kemungkinan karena kreativitas seniman dalam mengembangkan seni asalkan tidak melanggar norma yang belaku dalam masyarakat.

Cerita tersebut hanyalah menjelaskan sebagian kecil saja dari makna yang terkandung di dalam nominal 5 rupiah seri kebudayaan. Masih banyak sekali cerita-cerita yang lainnya jika dijelaskan dengan panjang lebar tidak akan pernah habis. Siapa yang pertama kali mencetuskan ide, siapa yang melakukan pemilihan gambar, siapa yang perancangnya, siapa pelukisnya dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang lainnya. Perlu anda ketahui salah satu pertanyaan yang masih mengganjal di benak para kolektor yaitu:

Jika ternyata Bank Indonesia mulai berdiri di tahun 1953, Kenapa seri kebudayaan ini tercantum tahun tercetak 1952 ??? Padahal menurut catatan sejarah pada tahun 1952 yang ada adalah De Javasche Bank bukan Bank Indonesia.

Demikian cerita singkat mengenai ung pertama Bank Indonesia, semoga penjelasan diatas bisa bermanfaat, perlu anda ketahui dalam mengoleksi uang pelajarilah seluk beluk uang tersebut sehingga koleksi kita tidak hanya sekedar hiasan, tetapi koleksi adalah sebuah makana yang berarti.

5 rupiah 1952 adalah Uang Pertama Bank Indonesia

Sumber :

  • website Museum Bank Indonesia
  • website sastravardhana
  • Jurnal Rupiah
  • Wikipedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *